banner
banner2

Login Anggota






Lupa Kata Sandi?
Belum memiliki akun? Daftar

Daftarkan diri Anda dan dapatkan Privileged Card secara gratis.

No users online
Guests: 3

Site Counter

1,215,455 visitors and counting!1,215,455 visitors and counting!1,215,455 visitors and counting!1,215,455 visitors and counting!1,215,455 visitors and counting!1,215,455 visitors and counting!1,215,455 visitors and counting!
Informasi diagnostik maksimal dari radiograf..... E-mail

 Informasi diagnostik maksimal dari radiograf panoramik dan intraoral untuk perawatan implan gigi
(Maximun diagnostic information from panoramic and intraoral radiograph for dental implant treatment)

 

Menik Priaminiarti
Hanna HB Iskandar
Bagian Radiologi Kedokteran Gigi
Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Indonesia
Jakarta, Indonesia


 

Abstract

In Indonesian dental implant treatment now has become a popular dental treatment as a dental replacement for edentulous patient. The jaw condition should be eveluated for treatment planning and periodically post operative assesment. Radiographic examination is one of the diagnostic tool that can reveal condition of the jaw. In planning implant treatment, a throught and accurate evaluation of the pattern and density of jaw bone as well as height and width of the remaining bone should be carried out. These two factors determine the dianostic decision related to the design, type and size of the implant chosen. Radiographic evaluation is also essential for assesing successful treatment, stability and possibility of implat failure in post implant evaluation. Location of critical organ that close to the implant site i.e. mandibular canal, maxillary sinus, and foramen mentale should be determined to avoid complication. Conventional radiographic examination that mostly used by dental practitioner in Indonesia are panoramic and intraoral radiography. Even used as routine radiographic projections, more disgnostic information could be obtain from them, especially for dental implant tretment.

keyword : Panoramic radiography, intraoral radiography, dental implant

 

Abstrak

Di Indonesia perawatan implan gigi sudah banyak di terapkan sebagai pengganti kehilangan gigi. Untuk persiapan maupun kontrol perawatan ini, kondisi tulang rahang harus dievaluasi. Pemeriksaan radiografik adalah perangkat diagnostik yang dapat memperlihatkan kondisi tulang. sebelum merencanakan perawatan implan, kondisi tulang rahang harus dievaluasi seakurat mungkin, baik kualitas (pattern and density of the bone) maupun kuantitasnya (height and width of the remaining bone). Kedua faktor tersebut menetukan diagnosis yang antara lain berkaitan dengan penentuan disain, jenis dan ukuran implan yang akan digunakan. Paska perawatan implan pemeriksaan radiografik diperlukan untuk menilai keberhasilan, stabilitas maupun memperkirakan kemungkinan kegagalan implan. Letak struktur anatomi kritis yang berdekatan dengan lokasi implan seperti kanalis mandibularis, sinus maksilaris, dan foramen mentale harus ditentukan untuk menghindari komplikasi. Radiografi konvensional yang banyak digunakan oleh dokter gigi umum di Indonesia adalah panoramik dan intraoral. Walaupun sudah rutin digunakan oleh dokter gigi umum, dari kedua jenis radiograf ini sebenarnya lebih banyak informasi diagnostik dapat diperoleh, khususnya untuk perawatan implan gigi.

Kata kunci : radiograf panoramik, radiograf intraoral, implan gigi.

 

Pendahuluan

Untuk memperoleh informasi diagnostik pada berbagai perawtan kedokteran gigi, pemeriksaan radiografik sudah digunakan oleh sebagian besar dokter gigi. Proyeksi paling banyak digunakan adalah panoramik dan intra oral radiografi. Keduanya sudah dikembangkan sedemikian rupa, dan perangkat yang digunakan ada yang konvensional maupun digital. Di Indonesia, karena harga yang relatif mahal, sebagian besar masih menggunakan perangkat radiografi kenvensional.

Perawatan implan yang akhir-akhir ini semakin diminati dan sudah banyak diterapkan oleh dokter gigi umum di Indonesia, memerlukan evaluasi rahang dengan pemeriksaan radiografik. Walaupun belum ada penelitian resmi kegagalan perawatan implan di Indonesia, dalam prosedur perawatannya, evaluasi tulang pra maupun paska perawatan implan gigi merupakan faktor penting yang dapat menentukan keberhasilan perawatan. (1-3) Idealnya pada setiap eveluasi tulang, dilakukan penilaian terhadap kualitas maupun kuantitas gambaran tulang yang akurat dan optimal dalam tiga dimensi obyek. (1-4) Evaluasi tulang dalam arah bukal lingual dilakukan dengan teknik tomografi, yang di Indonesia masih jarang digunakan.

Namun demikian dengan beberapa penyesuaian radiograf panoramik dan intraoral, dapat dilakukan evaluasi densitas maupun ukuran tulang yang ada. Tulisan ini membahas informasi apa saja yang bisa diperoleh dari kedua proyeksi ini untuk keperluan perawatan implan.

 

Tujuan Pustaka

Perawatan implan gigi sudah dikenal sejak tahun 1970-an. (5) Penelitian-penelitian yang berkaitan dengan pengembangannya antara lain penelitian tentang osseointegrasi. Osseointegrasi pertama kali ditemukan oleh Branemark et al pada 1977 di Universitas Goteborg dalam penelitian fenomena implan endosseous. (5-7) Kunci keberhasilan perawatan implan adalah oseointegrasi, yaitu integrasi dan kontak langsung antara tulang dengan implan tanpa adanya langsung antara tulang dengan implan tanpa adanya jaringan fibrous pada interface antara implan dan tulang rahang. (1,2,5) Hal ini tidak dapat dievaluasi hanya secara klinis tetapi memrlukan evaluasi radiografis. Selain itu, berbagai lokasi implan di rahang sebagai pengganti kehilangan gigi, berhubungan juga dengan lokasi struktur anatomi kritis seperti canalis mandibularis. Kondisi lain seperti sisa akar gigi, gigi impaksi, osteomielitis, dan bone dyslasia yang dapat mempengaruhi keberhasilan perawatan harus diidentifikasi lebih dahulu dan ditentukan lokasinya terhadap rencana lokasi implan. (1-3,8)

Berbagai jenis pemeriksaan radiografik dibidang kedokteran gigi berkembang pesat bersamaan dengan perkembangannya di bidang kedokteran. Walaupun demikian prinsip perolehan informasi diagnostik dari sebuah radiograf tidak hanya bergantung pada kecanggihan peralatannya saja. Dengan peralatan konvensional, penguasaan teknik yang mendasari pembentukan gambar, serta struktur anatomi dan obyek yang diproyeksikan merupakan faktor-faktor yang mutlak harus dikuasai dokter gigi sebelum melakukan interpretasi. (1,3,8) Dengan demikian sekalipun menggunakan peralatan radiografi konvensional, pemotretan, pemrosesan dan interpretasi yang tepat dapat menjamin diperolehnya informasi diagnostik optimal dari sebuah radiograf konvensional.



 
< Sebelumnya   Berikutnya >