banner
banner2

Login Anggota






Lupa Kata Sandi?
Belum memiliki akun? Daftar

Daftarkan diri Anda dan dapatkan Privileged Card secara gratis.

No users online
Guests: 6

Site Counter

1,215,455 visitors and counting!1,215,455 visitors and counting!1,215,455 visitors and counting!1,215,455 visitors and counting!1,215,455 visitors and counting!1,215,455 visitors and counting!1,215,455 visitors and counting!
Karakteristik Maloklusi penderita napas mulut di Bagian THT...................... E-mail

Karakteristik Maloklusi penderita napas mulut di Bagian THT RSUPN Ciptomangunkusumo FKUI Jakarta
(Malocclusion Characteristic of mouth breating patient in department of ent Ciptomangunkusumo Hospital, FKUI)

 

Miesje Karmiati Purwanegara
Bagian Ortodonti
Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Indonesia
Jakarta, Indonesia


Abstract

The impact of air pollution on the upper respiratory tract has become an issue of recent interst, leads mouth breating and abnormal growth and development of dentocraniofacial structure. The purposes of this study were imvestigate the sociodemographic population and malocclsion characteristics of hypertrophic tonsiloadenoid patients with mouth breating habit in ENT Departement of RSUPN Ciptomangunkusumo FKUI Jakarta, from 26th may 2003 to 31st July 2003. We classified the occlusions from dental cast and cephalometric radiograph based on asessessment of tonsiloadenoid size and questioner. The total patients were 87 (57 subjects: 22 females amd 35 males). Age was devided into 6 classes (5-5ys 11m; 6-8ys 11 m; 9-11ys 11m; 12-14ys 11m; 15-17ys 11m and >18ys). From total subjects with permanent dentitions 45, there were 4 subjects had normal occlusion. The protrusion of anterior teeth was the very frequent case of malocclusion characteristic. The conclusions were malocclusion and its characteristic of hypertrophy tonsiloadenoid patients was not specific. From this research it is needed further research.

Key word : Respiration, mouth breathing, dentocraniofacial.


Abstrak

Polusi udara mengancam kesehatan saluran napas, mengakibatkan berbagai penyakit saluran napas atas yang dapat mencetuskan kebiasaan buruk bernapas melalui mulut, yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dentokraniofasial. Telah dilakukan suatu penelitiam yang bertujuan mengetahui gambaran sosidemografi dan karakteristik maliklusi penderita hipertropi tonsiloadenoid dengan kebiasaan buruk bernafas melalui mulut di poliklinik THT RSUPN Ciptomangunkusumo FKUI Jakarta, dari tanggal 26 Mei 2003 sampai 31 juli 2003. Subyek penelitian dan data-data diperoleh melalui seleksi pemeriksaan, penggunaan kuesioner, model gigi dan sefalometri. Diperoleh 57 subyek penelitian dari 87 penderita hipertropi tonsiloadenoid yang datang. Dari 57 subyek tersebut terdapat 22 subyek perempuan dan 35 laki-laki. Umur subyek dibagi menjadi 6 kelompok, yaitu 5-5 tahun 11 bulan; 6-8 tahun 11 bulan; 9-11 tahun 11 bulan;12-14 tahun 11 bulan; 15-17 tahun 11 bulan dan > 18 tahun. Dari 57 subyek terdapat 45 subyek periode gigi tetap, 4 diantaranya mempunyai oklusi normal. Karekteristik maluklusi terbanyak adalah gigi anterior atas protrusi. Kesimpulannya adalah pada penderita hipertropi tonsiloadnoid, maloklusi dan karakteristiknya tidak khas. Perlu penelitian lebih lanjut.

Kata kunci : respirasi, napas mulut, dentokraniofasial.

 

Pendahuluan

Kemajuan pembangunan di berbagai bidang, memberi dampak pada kesehatan. Polusi udara mengancam kesehatan saluran napas, mengakibatkan berbagai penyakit saluran napas atas yang dapat mencetuskan kebiasaan buruk bernapas melalui mulut. Bila hal ini terjadi selama masa tumbuh kembang akan mempengaruhi pertumbuhan dentokraniofasial. Banyak penderita maloklusi kelas II divisi 1 dan maloklusi Kelas I tipe 2 yang mempunyai kebiasaan buruk bernapas melalui mulut (kebiasaan napas mulut).

Moyers (1988)(1) dan Graber, dkk (1997)(2) mengatakan bahwa kebiasaan napas mulut dapat menyebabkan penyimpangan oklusi, yaitu gigi anterior atas protrusi atau maloklusi kelas I tipe 2 atau maloklusi kelas II divisi 1. Rakosi,dkk (1993) berpendapat kebiasaan napas mulut dapat mengakibatkan maloklusi dengan gigi anterior atas retrusi, atau berjejal atau protrusi. Oleh karena ada perbedaan pendapat, perlu dicari kejelasannya. (3)

McNamara (1981) dalam penelitiannya menemukan banyak manifestasi deviasi tumbuh kembang kraniofasial pada penderita dengan kebiasaan napas mulut, tetapi yang menonjol adalah bidang mandibula yang curam. (4) Kesimpulan yang sama juga dikemukakan dari hasil penelitian oleh Limme (1981),(5) Gray (1993), (6) dan wollens dkk (1991) (7).

Penelitian Soeselowati (1988) pada anak-anak yang mengalami pembesaran tonsil faringeal (adenoid) menyimpulkan terdapat perubahan bentuk dan posisi kompleks maksilomandibular dalam arah anteroposterior, superoinferior dan transversal pada anak-anak dengan pembesaran adenoid. Frekuensi gigitan silang posterior bertambah seiring dengan bertambah besarnya adenoid. Pada pembesaran adenoid 45% sampai 55% mulai terjadi perubahan pada posisi dan morfologi kompleks maksilomandibular. Penelitian ini dilakukan menggunakan foto radiografi sefalogran dan model gigi. (8)
 
Linder-Aronson dan Woodside (2000) mengatakan penyebab yang paling sering dari obtruksi nasofaringeal adalah hipertrofi adenoid. Pada saat lahir ukuran adenoid kecil, membesar dan tumbuh mengisi ruang nasofaringeal pada umur 3-5 tahun, sehingga mengurangi ukuran saluran napas nasofaringeal dan mencapai puncaknya pada umur 5 dan 10-11 tahun. Adenoid dalam keadaan normal mengecil pada masa pubertas. Pada beberapa anak adenoid tidak mengecil sehingga dapat menyebabkan terjadinya kebiasaan napas mulut. (9)

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan ingin diketahui bagaimanakah gambaran sosiodemografi penderita kebiasaan napas mulut dilihat dari usia dan jenis kelamin serta jumlahnya dan bagaimanakah gambaran maloklusi penderita kebiasaan buruk napas mulut di Indonesia. Selain itu ingin diketahui bagaimanakah penyimpanan pertumbuhan dentokraniofasial yang disebabkan oleh kebiasaan napas mulut.

Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi sarana bagi dokter gigi dan ortodontis untuk mendeteksi adanya obstruksi saluran napas atas hidung maupun faring pada penderita maloklusi, dan meng-indikasikan perawatan, baik perawatan di bidang orthodonti maupun dibidang THT. Dengan demikian, sehingga kualitas hidup penderitapun dapat meningkat.

Dentokraniofasial

Kompleks maksilomandibular bersama tulang-tulang splanknokranium merupakan satu kesatuan tulang yang membentuk muka secara keseluruhan. Komponen tulang dentokraniofasial ini bersama otot dan jaringan lain mempunyai kesatuan fungsi yang sangat berpengaruh pada tumbuh kembang setiap bagian tulang, saling terkait dan saling mempengaruhi. Salah satu fungsi tersebut adalah fungsi pernapasan. (1)
 
Obstruksi Saluran Napas Atas (OSNA)

Osna adalah adanya sumbatan pada struktur saluran napas atas, sehingga ruang untuk mengalirnya udara inspirasi mengecil yang menyebabkan penderita mengalami gangguan pernapasan. Osna menurut struktur yang terkait, dan dapat menyebabkan kebiasaan napas mulut, dibagi menjadi dua, yaitu sumbatan faring menurut letaknya ada sumbatan nasofaring dan orofaring. (10) Pernapasan merupakan salah satu fungsi dari pernapsan merupakan salah stu fungsi dari struktur dentokraniofasial dan dalam tumbuh kembang dentokraniofasial ia merupakan kunci dari wajah. (1)

Sumbatan hidung :
secara anatomi hidung terbagi dua, yaitu hidung bagian luar atau piramid hidung dan rongga hidung atau kavum nasi. Kavum nasi terbagi dua, kiri dan kanan yang dipisahkan oleh septum nasi. Apabila terjadi penyimpangan pada struktur nasal, sehingga terjadi sumbatan atau obstruksi, maka terjadi gangguan respirasi nasal. Resistensi atau tahanan aliran udara nasal adalah rasio tekanan udara yang melalui nasofaring terhadap kecepatan aliran udara nasal selama siklus respirasi. (11)

Sumbatan faring :
Adenoid dan tonsil disebut sebagai penyebab terjadinya sumbatan saluran napas atas kronik sehingga terjadi sumbatan menetap yang dapat menimbulkan kebiasaan napas mulut. (12) Bila mengalami infeksi berulang dapat terjadi hiperplasia, akibatnya dinding faring menebal dan rongga faring menyempit, menjadi sumbatan untuk aliran udara respirasi. Individu dengan kondisi seperti ini akan membuka mulutnya agar dapat bernapas lebih longgar. (10)

Obstruksi Saluran Napas Atas (OSNA) dan tumbuh kembang dentokraniofasial

Komponen-komponen dentokraniofadial dalam melakukan fungsi dan tumbuh kembangnya saling terkait dan saling menunjang, menghasilkan bentuk muka dan profil harmonis dan seimbang. Fungsi-fungsi tersebut adalah pernapasan, mengunyah, menelan, bicara dan kebiasaan buruk napas mulut, mengisap jari, mendorong lidah dan sebagainya.



 
< Sebelumnya   Berikutnya >