banner
banner2

Login Anggota






Lupa Kata Sandi?
Belum memiliki akun? Daftar

Daftarkan diri Anda dan dapatkan Privileged Card secara gratis.

No users online
Guests: 1

Site Counter

1,215,455 visitors and counting!1,215,455 visitors and counting!1,215,455 visitors and counting!1,215,455 visitors and counting!1,215,455 visitors and counting!1,215,455 visitors and counting!1,215,455 visitors and counting!
Perbedaan Kadar Matrix Metalloproteinase-8 Setelah ......... E-mail

Perbedaan Kadar Matrix Metalloproteinase-8 Setelah Scaling dan Pemberian Tetrasiklin pada Penderita Periodontitis Kronis

 

Matrix metalloproteinase, especially MMP-8 is the key indicator related to periodontitis. MMP-8 is present in the Gingival Crevicular Fluid (GCF) of the patient suffered from periodontitis. The aim of the study was to compare the reduction of MMP-8 levels between the results of scaling, with and without tetracycline gel 0.7%, applied on chronic periodontitis. The samples were collected from the patients having chronic periodontitis and the patients with healthy periodontium as a control group. The GCF and whole saliva were taken before and 14 days after treatment. The GCF and saliva of the control group were taken from volunteer with healthy periodontium. The MMP-8 level was counted by ELISA test method (Enzyme Linked Immunosorbent Assay) with ELISA reader instrument (ng/ml). The non-parametric statistic analysis of Kruskal-Wallis test was used to compare the MMP-8 levels of chronic periodontitis and health control. The paired T test was used to compare the MMP-8 value before and after treatment, and independent sample T test to compare the reduction of MMP-8 value between scaling and combination treatment of scaling-tetracycline gel in GCF. This study showed that the MMP-8 level of chronic periodontitis was higher than that of healthy person. Tetracycline showed a tendency to reduce the value of MMP-8 GCF in the first 14 days.

Korespondensi (correspondence) : Melok Aris Wahyukundari, Departemen Periodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, Jln. Prof. Dr. Moestopo No. 47 Surabaya 60132, Indonesia.

PENDAHULUAN

Penyakit periodontal banyak diderita oleh manusia hampir di seluruh dunia dan mencapai 50% dari jumlah populasi dewasa.1,2 Menurut hasil survai kesehatan gigi dan mulut di Jatim tahun 1995, penyakit periodontal terjadi pada 459 orang diantara 1000 penduduk dan lebih banyak di pedesaan daripada perkotaan.3 Di Asia dan Afrika prevalensi dan intensitas penyakit periodontal terlihat lebih tinggi daripada di Eropa, Amerika dan Australia. Di Indonesia penyakit periodontal menduduki urutan ke dua utama yang masih merupakan masalah di masyarakat. Penyakit yang menyerang pada gingiva dan jaringan pendukung gigi ini merupakan penyakit infeksi yang serius dan apabila tidak dilakukan perawatan yang tepat dapat mengakibatkan kehilangan gigi.4 Penumpukan bakteri plak pada permukaan gigi merupakan penyebab utama penyakit periodontal. Penyakit periodontal dimulai dari gingivitis yang bila tidak terawat bisa berkembang menjadi periodontitis dimana terjadi kerusakan jaringan pendukung periodontal berupa kerusakan fiber, ligamen periodontal dan tulang alveolar.

Jaringan periodontal tersusun dari komponen matriks ekstraseluler yaitu kolagen yang berperan dalam proses regenerasi dan kerusakan jaringan. Kolagen interstisial jaringan periodontal berfungsi untuk penyembuhan dan pembentukan jaringan baru. Penyakit periodontal didefinisikan sebagai penyakit yang kehilangan struktur kolagennya pada daerah yang menyangga gigi, sebagai respon dari akumulasi bakteri pada jaringan periodontal, tapi patogenesis secara molekular masih belum jelas. Matriks metalloproteinase (MMPs) diduga berperan secara bermakna pada penyakit periodontal ini.5 MMPs adalah famili dari zinc metallopeptidase yang terkait secara bersama menurunkan kebanyakan komponen matriks ekstraseluler.6 MMPs merupakan enzim proteolitik dimana dalam proses proteinasenya yang diperlihatkan melalui patogen periodontal yang terinfeksi, akan mengaktifkan MMPs inaktif sehingga terlibat dalam degradasi makromolekul matriks ekstraseluler, termasuk juga terlibat dalam degradasi ligamentum periodontal.7

Proses penyembuhan ini secara enzimologi bisa digambarkan dengan adanya penurunan kadar MMP-8 yang berperan aktif dalam patogenesis periodontitis. MMP-8 dikenal predominan dan bentuk paling umum dari penyakit periodontal.2 MMP terlibat dalam degradasi matriks kolagen interstitial ekstraseluler. MMPs yang diduga berperan dalam banyak proses perubahan fisiologis dan patologis misalnya arthritis, invasi kanker dan metastasis, glomerulonephritis, artherosclerosis, ulser jaringan, termasuk dalam penyakit periodontal, terlibat dalam degradasi ligamen periodontal.5 MMP-8 disebut juga enzim kolagenase yaitu enzim yang dapat memecah kolagen pada peristiwa remodeling jaringan. Enzim MMP-8 ini dihasilkan oleh bakteri penyebab kelainan periodontal yang berpotensi merusak jaringan penyangga gigi dengan cara merusak kolagen tipe I.8

Kolagenase adalah peristiwa untuk memecah kolagen yang dianggap penting pada proses terjadinya penyakit periodontal dan mengaktifkan MMPs untuk mengawali atau mempercepat degradasi kolagen ligamen periodontal.5

MMPs adalah suatu enzim proteolitik yang mempengaruhi degradasi dari makromolekul matriks ekstraseluler, yaitu kolagen interstitial dan kolagen membrana basalis, fibronektin, laminin dan proteoglikan.9 MMPs disintesis dan disekresi dalam suatu bentuk proenzim inaktif. Pemecahan proteolitik dari gugus-amino pada rantai propeptida diperlukan untuk membangkitkan enzim aktif.10 Secara alami muncul penghambat MMPs yaitu tissue inhibitor matriks metalloproteinase (TIMP), kontrol yang penting terhadap setiap aksi dari MMPs. Secara fisiologis, MMP- 8 dan penghambatnya telah ada dalam jaringan periodontal, namun bila tak ada keseimbangan antara MMP-8 dengan TIMP maka akan terjadi peristiwa patogen pada jaringan periodontal, dimana jumlah MMP-8 akan meningkat dan terjadi degradasi matriks ekstraseluler.6



 
Berikutnya >